Tangsi Belanda Akan di Lakukan Restorasi Fisik Pada 2018

Peninggalan sejarah yang masih terjaga, merupakan modal potensial sebagai daya tarik wisata.  Kita dapat melihat diberbagai belahan dunia pada umumnya kota tujuwan wisata mengandalkan, situs cagar budaya tingalan sejarah sebagai daya tarik utama kunjungan wisatawan.

“Situs sejarah atau bangunan bernilai sejarah saat ini merupakan daya tarik bagi para wisatawan, selain mereka berlibur disitu memiliki nilai edukasinya”, Hal tersebut dikatakan Sekda Siak TS. Hamzah saat saat memberikan kata sambutan pada acara workshop pelestarian Bangunan Gedung Cagar Budaya (BGCB) yang di taja oleh kementrian PUPR yang berlangsung dihalaman tangsi belanda Benteng Hulu Kecamatan Mempura rabu 04/10/17.

Menurutnya, dari catatan sejarah tangsi belanda ini di bangun pada tahun 1830 tetapi tidak langsung selesai kemudian 30 tahun berikutnya tepatnya tahun 1860 baru di siapkan, dan pada masanya itu tangsi tersebut difunsikan sebagai pusat kesehatan bagi pemerintahan belanda.

Oleh karena itu guna memperkuat bangunan cagar budaya yang ada, Pemkab Siak telah menetapkan regulasi dan aturan guna mempertahankan ciri khas budaya melayu dan melestarikan bangunan cagar budaya tersebut, melalui rumusan program kota pusaka. Tujuannya tak lain sebagai bentuk upaya penataan serta pelestarian banguan cagar budaya yang ditetapkan oleh kementrian Pekerjaan Umum dan dan Perumahan Rakyat.

Tangsi belanda meliter ini merupakan tingalan sejarah yang memiliki hubungan erat keberadaan ke sultanan siak, saat ini keberadaan tangsi tersebut belum terpelihara secara maksimal, kurangan nya pengetahuan kita terhada pemanfaatan banguana cagar budaya ini dan ditambah keterbatasan anggaran yang ada bagunan cagar budaya ini kondisinya kurang terpelihara dengan baik.

Kedepan melalui kajian teknis dan restorasi fisik yang telah dilakukan pemkab siak akan berupaya agar bangunan tangsi meliter ini nantinya dapat digunakan sebagai komplek museum perjuangan. Guna memfasilitasi generasi muda, pelajar serta bagi wisatawan untuk menambah wawasan dari bidang pendidikan sejarah.

Perjuangan memperoleh anggaran dari pusat untuk bangunan bersejarah, seperti tangsi meliter belanda ini kami rasakan cukup berat dimana kabupaten siak salah satu dari tiga kabupaten kota yang bersaing untuk memeroleh alokasi anggran berupa kajian dari penataan bangunan dan lingkungan khusus. Berkat usaha yang keras dari dinas terkait Insyaallah pada tahun 2018 tangsi belanda ini akan dilaksanakan restorasi fisik, murni mengunakan angaran pemerintah pusat.

Saat ini memiliki 13 banguan cagar budaya yang berstatus nasional, yang ditetapkan melalui mentri kebudayaan dan pariwisata. Namu dari jumlah tersebut masih ada bangunan cagar budaya tersebut sama sekali belum direstorasi, melalui kesempatan ini saya menghimbau kepada pemerintah pusat dalam hal ini kementrian PUPR juga agar bisa direstorasi.

Sementara itu Kasubdit penataan bangunan dan lingkungan khusus Direktorat Jendral Cipta Karya Mengungkapkan, kujungan lapangan ini merupakan rangkayan dari acara workshop pelestarian bangunan dan gedung cagar budaya. program kota pusaka ini masuk didalam kegiatan kementrian PUPR terkait dengan kegiatan ini kami melakukan kunjungan lapangan, sebagai studi kasus untuk kegiatan perencanan teknis dari bangunan dan gedung cagar budaya yang di lestarikan, untuk studi kasus di tangsi belanda kecamatan mempura.

Untuk itu, dalam rangka meningkatkan pengetahuan dan kesadaran pemerintah kota dan pelaku pelestarian di kabupaten/kota peserta program penataan dan pelestarian kota pusaka (P3KP) diperlukan perlatihan berupa workshop (PBGCB) sebagai salah satu kegiatan pembionaan, untuk menyampaikan materi teknis tentang penyelenggaranan Bangunan Gedung Cagar Budaya yang dilestarikan. Saat ini yang mengikuti Workshop pesertanya berasal dari 16 daerah se-indonesia, mereka di sini akan studi kasus. Dan kita sudah memersiapakan narasumber yang sesuai dengan ahlinya penelitan mulai dari segi sejarah dan arsitektur, dari segi eskapasi arkeologi, dari Aspek pemugaaran gedung, Aspek Integerasi sejarah idetifikasi arsitektur.

Sumber : Humas Kab. Siak, 5 Oktober 2017

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *